Rabu, 19 Oktober 2016

Kebiasaan yang ditularkan oleh Ibu saya.

INI KEBIASAAN YANG DITULARKAN IBU SAYA.
Waktu anak-anak masih kecil. Saya termasuk Ibu berisik dan kurang sabar. Sering sekali saya menggigit bibir bagian bawah untuk menenangkan diri.
Malam hari, kebiasaan saya mendongeng, pengantar cerita jelang tidur. Saya pandangi wajah mereka satu persatu.
"Ummi ridho untuk kamu anakku." Batinku.
Wajah polos anakku menyentuh sisi rasa haru. Iba selalu jatuh setiap akan mematikan lampu dan menutup pintu kamar mereka. Saya meminta ampun kepada Allah atas keterbatasan mengendalikan emosi jiwa. Saya tiupkan surah Al-Fatihah ke wajah mungil dan mengusapkan bacaan sholawat diawal rehat si buah hati.
Pagi hari, saat membangunkan mereka untuk sholat subuh (saya sudah bangun 1 jam sebelumnya) saya berdoa, memohon kekuatan membimbing amanah ilahi ini.
Selebihnya tiap habis wudhu, tangan saya yang masih basah air wudhu dan doa, pasti mampir di wajah ke-empatnya.
Saya pikir, Kawan...
Anda, pasti lebih hebat pengalaman beragamanya. Semua kebiasaan diatas, hingga saat ini masih saya lakukan, jika mereka kebetulan ada di rumah.
Semoga lebih banyak lagi Ibu yang peduli Pengamalan Keagamaan tidak langsung, yang dapat menyuburkan potensi ilahiyah dlm diri anak kita.
Betapa terberkatinya hidup ini, karena ke-empatnya, saya dipanggil "Ummi" oleh Faizah, Fatima, Fuad dan Farhan.
Saya pernah diberitahu.
Sedihlah jika anak menolak minum lebihnya air putih/teh dari gelas Ibunya.
Hendaknya kamu berusaha menundukkan ego anak untuk mendidiknya patuh. Caranya minumkan air cucian kaki lepas wudhumu di malam/hari Jum'at.
Untuk kasus pertama, saya sering mengerjakannya. Sementara minum air cucian kaki Ibu, Saya menyesal belum berkesempatan, karena Ibu telah tiada.
Ketika ini diuji coba ke anak-anak.
Farhan si bungsu.
"Dek...ini minum Umi, Adek mau, ya!?"
Lalu terdengar "glek glek dari " kerongkonganya.
Dibagian ini saya lega.
"Ummi." Kata si bungsu, menyurungkan gelas ke arahku.
"Lagiii..."
Pada Kamis, Jelang maghrib.
" Umi, kapan Umi wudhu?" Kata si kembar.
"Kenapa?" Kata saya memutar kran air yang terletak di sisi tangga bawah balkon lantai II, bersiap wudhu untuk maghriban
"Kita mau minum air cucian kaki Umi dan menyisakannya untuk Dek Fuad nanti setiba di Surabaya." Kata salah satunya memegang baskom.
Saya?
Speachless.
Moral cerita : Niat baik pasti dibalas baik.
Sebaik-baik peninggalan yang diwariskan orang tua kepada anak adalah pendidikan akhlak 

Kamis, 22 September 2016

Hadiah Ulang Tahun Terbaik

Batam Indonesia
 #CatatanHariKamis

“Apakah Umi tidak malu kakak pindah kuliah di Samarinda?” Kata Riffat tiba-tiba.
Bukan malu mereka di Samarinda. Heran, kenapa Riffat meragukan ketulusan saya?
Saya ada untuk mendukung semua jalan mereka  menuju kehidupan bahagia.

Anak kembar yang setia dalam benar dan salah itu. September 2016 pindah kuliah di Samarinda.

Jurusan teknik sipil adalah. Laa Budda! Tidak bisa tidak.

Setelah Fuad  yang juga semester III Teknik Sipil di ITATS Surabaya. Hanya si bungsu yang masih berpeluang memilih jurusan pendidikan lepas SMA

Lelaki 16 tahun itu, sejak SMP sudah diwanti-wanti Ayahnya, memilih jurusan teknik. Boleh teknik arsitek. Meskipun saya melihat minat psikologi dan seni lebih kental dalam darah si bungsu. Tetapi terserahlah.

Saya harus patuh untuk menyerahkan segala urusan pendidikan dan pekerjaan anak-anak kepada suami. Anak-anak memulai hidupnya dengan pendidikan pesantren. Itu keinginan saya dan terpenuhi.

Selanjutnya, fokus mendoakan saja. Terserah Tuhan, akan mengatur kemudahan melalui jalan kehidupan yang mana. 

Pemikiran saya sederhana. Pintu bergaul di dunia adalah agama. Seseorang yang kenal Tuhannya,
siap bertanggung  jawab terhadap semua yang dilakukannya.

Pengawasan melekat dari dalam diri sendiri. Agama mengajarkan tahapan-demi tahapan meraih Ma’rifat. Pengenalan diri kepada Allah. Beribadah hingga menuai yakin. Keyakinan memupuk rasa percaya diri.  

Si kembar, daya nalar dan tingkat kritisnya  melampaui usia mereka. Jam terbang hidupnya yang belum seperempat abad kerap membuat  mulut saya terganga.

“Lihatlah itu….kelakuan anak kesayangan Umi. Uang untuk SPP dia pakai traveling ke Lombok dan pulau Rote.” Kata Riffat. Ketika dia marah,  Saya tidak bisa berkata apa-apa. Walapun kata Fuad dia baik-baik dengan dengan pembayaran SPP.

Dilain waktu, dia juga yang meminta ampun

“Maafkan kakak, Umi. Salah. Menuduh Umi pilih kasih, lebih sayang  Fuad daripada kita,” katanya  sambil terisak menyalami-ku.


Aku terdiam. Memahami pikiran orang muda. Menafsiri bahwa anak-anak,  kerap tidak cukup akal mengerti keluasan kasih sayang Ibunya.

Mana bisa membedakan perlakuan terhadap anak yang lahir dari rahim sendiri.  Mereka menempati wadah  berbeda dalam hati yang sama. Ke empat mereka adalah organ penting, seperti organ vital dalam tubuh. Sebut saja jantung, paru-paru, liver dan empedu.

Semua penting, menjalankan fungsi masing-masing. Peredaran darah dipompa oleh jantung. Empedu menyaring racun, paru-paru, sirkulasi udara. Liver, kunci kesehatan raga.

Jangan salah menduga. Kalian memiliki tempat, sama. Utama dan penting. Libatkan rasa sebelum berkata-kata. Pikiran jangan melulu dipercaya. Lelah, kalau banyak berpikir.

Luaskan saja hati. Lihat yang terjadi, orang tua adalah sahabat sejati, berdiri dan pendukung paling berani.

Pindah kuliah dari Surabaya ke Samarinda adalah pilihan terbaik. Saran Penasehat Spiritual Keluarga kita, serta merta ikuti. Bagus! Komentar terbaik  beliau :

“ Ridho Ibumu, raihlah. Buktikan mimpimu dalam jaga. Dengari, ikuti mau-nya. ”

Dan kenyataan memang demikian. Si kembar, perempuan cerdas yang susah mandi itu, mulai jinak bak kucing anggora. Pesek Persia, si cantik pemalas berharga.

Menjadi insinyur adalah gen mereka sejak janin. Dibagian ini, saya mengambil peran membina karakter. Si Ayah mengajarkan ketrampilan hidup.

Anak adalah jendela kedua orang tua.

Fatima yang logis dan sistematis mewakili kakunya seorang insinyur senior. Satu dari Fatima. Bakat menulisnya melampaui saya, diusia yang sama. Pilihan diksi nya kadang membuat saya terpukau, iri.

Sementara Riffat cermin kepribadian saya. Penyuka kedalaman.  Kemampuan bicaranya membuatku tidak malu mengatakan “Wow…”

Ada yang jembar sekali di rongga dada,  sejak mereka di Samarinda. Disamping kemudahan akses kolega, jalur pertemanan Ayahnya. Hampir semua dosen adalah mitra kerja dan yang terhormat bapak Dekan, si Ayah bermodal “ Halo” untuk menyelesaikan perkara konversi dan masalah admistrasi/akademik. 

Samarinda memanggil kalian. Bumi etam merindu. Satu dasawarsa di Surabaya, cukup menyantap pesona pulau Jawa, mengikuti ritme hidup masyarakat kota. 

Kalimantan memanggilmu pulang. Sungai Mahakam mengalirkan energi magis di pembuluh semangat kalian. Beberapa proyek pekerjaan di kota-kota dalam wilayah Kalimantan Timur, menunggu bantuan pengawasan dari kantor cabang Samarinda. Alasan pekerjaan kalian ada.

Disamping itu, kita bertiga penyuka jalan-jalan. Dan ini...
Perempuan, di manapun. Pasti menghentikan langkah di depan etalase yang memajang sepatu dan tas merk ternama.

Selamat Ulang Tahun 22 September 2016.
Baik-baiklah jadi anak.  Umi, akan jadi Ibu yang baik bagi kalian ber-empat.


Minggu, 14 Agustus 2016

Akrobat Siang di antara Bunga Padang




Aku ingat lagi bunga padang,  saat... Latihan menulis deskripsi. "Jangan pisahkan deskripsi dan adegan,...seperti; Lelaki berambut cepak berlari tergesa-gesa menuruni bukit, melewati semak dan bunga padang, mengibas rumput nakal yang menempel di celana panjang hitamnya." Kata Mentorku, di kelas menulis fiksi.

"Lihat...kita menyatukan antara adegan 'menuruni bukit' dengan deskripsi latar ' bunga padang, semak, juga keadaan celana panjang karakter.'
Mentorku, bersemangat membimbing anak asuhnya menemukan potensi diri. "Percaya diri dipengaruhi oleh,  rasa kuat menyukai diri sendiri, Benar?" Kalau yang ini, sih...Katanya Akyuu.:))




Bunga Padang. Lotus  atau  Teratai. Bijinya enak, manisnya lembut tersembunyi dicelah selaput bergabus. Mendapatkannya, perlu berenang atau naik perahu ke tengah danau. Daun-daunnya  lebar berkelompok di sekitar bunga. Bunga Padang  ditemukan   pasca  panen padi, di lahan persawahan.

Lahan persawahan di seberang jalan utama lintas kabupaten, depan rumah kami, menjadi danau hingga musim tanam berikutnya. Air sawah  coklat, kangkung liar dan bunga padang tumbuh subur. Ungu dan putih bunga padang, berbaur diantara bunga kangkung air, putih kecil.

Dari balik kaca patri rumah kami. Mentari menimpa wajah air. berkilau keperakan.  Beberapa Jukung atau Perahu kecil bergoyang lembut ditiup angin padang.  Sore hari  bangau putih hinggap di daun teratai, mencari makan juga mencandai ikan.

Aku kecil, diam-diam pernah bermain nyawa dengan perahu, demi sekuntum bunga padang.

Waktu itu...Umurku 7 tahun. Hari pertama masuk Sekolah Dasar. Hari ke-7 keluarga kami menempati rumah kontrakkan baru. Ibu sedang mengajar di Madrasah Aliyah Putri hingga siang. Dua adikku di rumah pengasuh mereka. Apa yang dilakukan anak  perempuan 7 tahun di rumah besar sendirian? Mari kita lihat;

Bosan bermain masak-masakan, aku mengobrak-abrik koleksi buku. Buku cerita bergambar berserakan di lantai. Satu buku  menarik  perhatianku. Buku itu terletak di rak paling atas lemari buku di ruang kerja Ibuku. Ingin kuambil. Tekadku kuat jika punya mau. Pantang menyerah, kecuali dimarahi atau dipaksa berhenti oleh tangan berhak lagi berkuasa.

Skenario satu;
Aku naik, menginjak ujung rak ketiga, tangan mengapai-gapai. Sepertinya berbahaya jika kuteruskan. Iya kalau berhasil menjangkau, jika tidak,  kemungkinannya dua. Dijatuhi buku atau rak buku roboh menimpa badan kurusku. Tidak ada penolong jika aku celaka ditimpa rak buku.

Oke lupakan, opsi satu!

Skenario dua;

Tempat dan judul buku, ku ingat baik-baik. Tunggu datang bantuan dulu. Minta tolong pembantu atau Ibuku. Tetapi tidak Ayah. Aku malas berurusan dengan Ayah, apalagi minta penuhi maksudku. Ayah terlalu sibuk berdagang. Berangkat pagi pulang petang. Malam kelelahan.  Lebih baik mencari penolong memihak saja. Aha...Ada bibik Hani pengasuh kami. Pasti mau.  Perawan belum berkawan di usia 43-an yang mengasuh aku dan kedua adikku. Setiap sore hari kembali ke rumah kami. Ibu sering minta tolong Bik Hani menginap rumah, jika Ayah keluar kota.

Opsi kedua, lebih masuk akal. Oke...aku sepakat berdamai hati. Tahan sebentar, paling lambat sore atau malam hari, keinginanku terkabul. Kupilih opsi kedua. Tetapi  harus  sabar, karena menyangkut relasi luar diri. Tidak apa-apa,  sabar sejenak. Aku kan ingin disayang Tuhan. Begitulah kata yang sering ku dengar.

Baik... siang indah cerah. Angin padang melambaikan tangan memanggil. Aku akan mengusir jenuh. Hanya  perlu jalan kaki 300 meter kearah rumah Bibik Hani. Rumah Bibik Hani diatas danau, dengan jembatan kayu sepanjang 100 meter. Aku ingin bermain di kolong rumah pengasuh adikku itu.

Ada perahu kecil bergoyang ditiup angin. Gemas sekali aku melihatnya. Ku perhatikan sambil tengkurap di lantai  kayu berpapan jarang.  "Sepertinya asyik nih..." Aku turun, memperhatikan sekeliling, siapa tahu ada orang. Tidak ada. Bagus kata akalku mulus.
Tanganku kemudian  menyingsing rok, melangkah hati-hati di tangga kayu samping rumah. Girangnya hatiku  mendekati perahu. Satu demi satu tangga kulangkahi mencapai muka air. Bercelana pendek motif bunga, sekarang aku tanpa rok pendek. Lihatlah anak kecil dengan satu keinginan ; Mengambil Bunga Padang. Hasrat sempurna, siang tanpa Mama .....

Aku berjalan ke ujung perahu, mengapai-gapai bunga padang dengan sebilah batang bambu. Ku kais, ku pukul dan ku hempaskan batang bambu, berharap bunga atau bungkul teratai terpisah dari batang, setelahnya bisa kukait menggunakan ujung bambu yang diikat pisau kecil.

Udara siang sangat bersahabat, aku terlalu asyik menginginkan bunga padang, tidak sadar tali penambat perahu longgar kemudian terlepas. Angin yang bertiup sedang membawa perahu kian ketengah. Aku senang semakin dekat dengan bunga padang, tanpa menyadari perahu  hanyut terbawa angin. Bunga padang kuraih dengan mudah, kupetik satu kuntum juga merenggut dua tangkai buah teratai, menarik dua helai daun. Masalah terjadi ketika aku ingin kembali. Baru kusadari berada ditengah danau. Sendirian. Di atas perahu di bawah langit abu-abu.

Perahu telah jauh dari tiang rumah tempat asal sandar. Aku bersikap tenang. Duduk berjongkok, mataku memperhatikan air yang menggenangi setengah badan perahu, kukeringkan tangan dengan meletakkan keduanya dikepala. Memikirkan cara  yang akan mengembalikan perahuku meraih tiang tangga kayu. Ku dayung perahu dengan sebilah bambu seperti yang pernah kusaksikan di TV. Malangnya bambu kecil itu patah. Tiupan angin membuatku panik,  karena tidak ada lagi  alat untuk mendayung. Aku berdiri, bergerak-gerak.  Terlalu banyak bergerak, perahu oleng, tetapi masih aman.

Didorong rasa penasaran, kuulurkan tangan kebelakang mengapai-gapai batang bambu, aku terlalu dekat dengan permukaan air  untuk meraih penggalah  bambu,  sebelum... Akhirnya terjatuh. Aku memang tidak menangis, tetapi lupa kejadian setelahnya.

Entahlah....selanjutnya,  bisa saja terjadi  perdebatan antara dua malaikat. Mikail  dan Izrail. Jika saja waktu itu malaikat Izrail menang. Aku....Mustahil bisa menulis cerita ini. Karena telah bahagia di sorga ditemani indahnya bunga padang.


#Sedangadaide