Senin, 13 Mei 2019

Aktif saat Puasa



Google.com





Hari Rabu agenda kelas Sejarah Legislasi Hukum Islam (Tarikh Tasyri’) adalah menggelar diskusi panel. Panitia menghadirkan seorang dosen pakar hukum islam alumi Timur Tengah dan ahli kesehatan reproduksi (Obgyn). Persiapan dua minggu membekaskan serba-serbi penuh kejutan. Kerjasama kuat, team kelas berusaha keras dan bekerja cerdas.

Hampir tertutup celah meninggalkan acara yang akan dilangsam pada 10 Ramadhan 1440 H (15 Mei 2019). Ketua panitia (sie. Acara) mengatakan—semacam intimidasi bagi warga kelas. “Jangan coba-coba merekayasa alasan bolos. Di mata saya kamu tidak akan lolos. Jika nekad. Saya,“ katanya serius, “saya adalah orang pertama yang maju ke Ibu minta penundaan nilai “ Wow! Giliran saya speachless.

Intensitas ke kampus meningkat dari jadwal mengajar reguler. Bontang-Sangatta dengan kondisi jalan yang “aduhai,” cukup mengganggu tidur selama berkendara. Biasanya karena setir dibanting menghindari lubang jalan atau rem diinjak tiba-tiba. Lisan  membunyikan asma Allah spontan. “Allah.” Mengudara dari mulut saya.

Poros Bontang-Sangatta
Perbaikan jalan poros Bontang-Sangatta dikebut. Rekayasa lalu lintas—buka-tutup— jalan raya memaksa mobil berhenti sekejab. Sekejab itu bisa 7, 10 bahkan 20 menit. Kondisi kendaraan yang ramai lancar berasa berkendara di jalan ibu kota.

Jika malam hari, sepasang mata merah di belakang kendaraan menyilaukan mata. Bukan merah hantu marah melainkan urutan mobil dalam formasi arak-arakan memecah kesunyian hutan.

Puasa tahun ini seperti tahun lalu, aktivitas saya tetap dari itu ke itu. Amaliah harian, zikir, qur’an, ibadah malam dan menjahit. Menjahit saya kerjakan sebagai pengalihan perhatian. Angkat pantat dari depan komputer, saya panjat tangga berjalan ke lantai dua. Di situ tersedia meja mesin jahit hitam untuk merakit potongan bahan.
Bupati Kutai Timur Bapak Ir. H. Ismunandar, MT.

Dengan view kafe alam, saya nyatakan terbang pikiran bawaan komputer di bawah tadi. Kepala kembali ringan saat melanjutkan edit tulisan.

Saya memotong dan menjahit sendiri pakaian. Dari daster rumahan hingga kebaya brukat pesta tentu saja setiap pamer ke teman “Eh, ini baju jahit sendiri, loh.” Bukannya setuju, lawan bicara menatap lekat mata saya. Sepasang alisnya merapat menjanin tatapan mustahil. Kata pertama adalah tidak menyangka “Ah, massa sih.” Jawaban agak sedikit adem adalah “Ooo.”

Dengan setengah tidak peduli, bahasa tubuhnya tetap sama, tidak percaya itu karya saya. Tuhan! Engkau melihat apa yang aku lakukan, saya ini orang baik-baik kok :))

Mendapati tatapan, kesangsian bahkan penolakan tidak serius, saya semakin geli dan bergurau memertontonkan keahlian amatir ini. Karena menjahit menggunakan pola siap pakai ukuran diri sendiri, otomatis hanya fokus memroduksi pakaian jadi bagi diri dan kedua putri (saya, si kembar). Maaf untuk berterus terang tidak terima jahitan.

Di hari lain...

Ketika diundang acara pembukaan pelatihan MC (Master of Ceremony) kami menyepakati banyak perkara mendasar. Ini dia kegiatan saya yang lain. Mengajar lagi kelas MC dan Pengembangan Pribadi.

Dalam forum (baik di ruang kelas mahasiswa atau kelas pelatihan MC) saya menata mekanisme kebebasan berpendapat. Jika ada yang ingin disampaikan, acungkan tangan. Ketika satu tangan terangkat—penanda dia siap bicara,  seluruh anggota kelas siap mendengar. Ini jitu, persis wasit saya akan menunda pembicara tadi jika kelas belum kondusif.

Langkah kedua, biasanya saya “memaksa” mahasiswa atau peserta pelatihan untuk membiasakan menulis pertanyaan. Jangan terlalu percaya diri bicara tanpa persiapan. Pertanyaan yang dibaca lebih sistematis ketimbang merangkai kalimat namun kebanyakan lupa, akibatnya “eeee...uuu, apa tuh namanya dan sebagainya. Selalu saya jawab “Tidak tahu” jika keluar pertanyaan...eeee, apa tuh namanya ?

Di kelas psikologi saya mengatakan “ Lihat matanya jika ingin menguji kejujuran seseorang dan dengari pertanyaannya,  jika mau mengetahui isi kelapa eh kepala atau kecerdasan otaknya.

 Menulis kalimat tanya mulailah dengan prosedure standart 5 W 1 H, aman kalau itu.
Apa untuk pertanyaan dengan jawaban ala kadarnya. Mengapa jika menanyakan alasan dan bagaimana adalah pertanyaan mengenai cara atau metode. Kapan dan siapa. Gunakan itu secara disiplin lalu rasakan bedanya kamu dulu dan sekarang. Cobalah!

Walaupun puasa, kegiatan domestik juga sama, tidak berubah. Saya menunaikan tugas rumah tangga tanpa asisten. Menjemur pakaian, menyetrika juga memasak. Urusan dapur dan makanan, anak-anak menagih bikinan Umminya.

Artinya, dengan kegiatan memberi kuliah, aktivis dakwah masyarat dan ikutan khotmil qur’an ( satu juz saya rampungkan 25 menit), menulis menjadi satu-satunya tanda cinta sebenarnya. Termasuk memerikan kemesraan berTuhan juga dengan menulis, benar ?

Bagaimana kita paham kedekatan mendalam Rabia’ah sang Sufiah dan El Rumi, mereka dilanda kedahsyatan cinta kepada Rabb-nya ? Hanya satu cara, ada penulis menulis untuk kita.


google.co
Kiranya menulis bukan cuma terapi, menulis adalah inti kedalaman, tanda syukur dan cara praktis berbagi. Dakwah bil Pena saya menyebutnya. Tulislah, tulis apa saja dan share selagi bisa, sebelum segalanya hanya tinggal nama. Menulislah untuk Memuliakan Guru Menulismu (Mentor). Menulislah sebagai pemberitahu kamu, muridnya selamanya meski dia lupa bahkan tidak niat ingat siapa kita.

Menulis sebagai tanda kamu ada. Bukankah jika mati, tulisan di blog ini tetap lestari ?
Belum ada kejadian orang mati bawa flash disk file tulisan.

So... Siapa saja silahkan ambil manfaat di sini. Tidak bersyarat dan kayak mangga depan rumah saya, selama ada ambil saja. boleh. Pun jika tanpa izin.

Untuk penulis pemula kayak sayak, sebenarnya ada satu blog menulis terbaik. Recommended deh. Sayang saat hari ulang tahun saya dua tahun lalu, blog itu hilang, kabarnya pergi ke Cina. Allahu'alam.



Minggu, 12 Mei 2019

Manfaat Kangkung untuk Ketombe



sumber gambar : Pinterest.com



“Maka-nya sering basuh rambut, biar gak ketombe-an,” katanya berlalu sambil garuk kepala. Di atas bahu serpihan sisik keputih-putihan itu menerpa sisi baju.

Desisnya menunjukkan alamat serangan gatal. Dia berlalu meninggalkan ruangan, kesal. Mengabaikan sepasang mata yang menguntit gerakan tangannya menggaruk. Sepasang mata yang tidak melepaskan punggungnya hingga halangan pintu kantor membekuk.

Adegan di atas, seperti semacam tontonan difence mechanisme (pembentukan reaksi yang menampakkan emosi). Masalah ketombe yang dialami dan nasihat gratis. Aksi yang dilakukan kayak bumerang balik pada pemilik.



Pernah mengalami masalah ketombe ?

Ada semacam perasaan was-was, jangan-jangan bau  rambut menyerempet hidung orang-orang. Gak enak perasaan, apalagi kalau se-ruangan dengan.... Dengan siapa saja yang bikin perasaan mendadak gak karu-karuan. Orang itu bisa dosen pembimbing yang revisi-an kita gak kelar-kelar. Persis atap rapuh, ada saja salah. Perbaiki ini, itu dicoret. Halaman 7 selamat halaman 17 dispidol merah.

Atau kamu kurang sreg, teman duduk bangku belakangmu pengampu kepribadian ekstrovert parah. Nafsu mengaturnya Kamu cibir tiga semester.

Tapi dasarnya teman sekelompok, ya.. Mau gak mau harus ketemu Blio saban presentasi tugas kelas. Kepada dia kamu harus terima kasih.

"Terimakasih ? Hellow?"

"Eh...Benar." :))

Lantaran mulut longgarnya: “Heh..rambutmu butuh shampo kangkung, usir ketombe, Gih.”

"Hheeyyaaaah.." Sampai kapanpun Kamu gak lupa bunga hidungnya yang mekar berwarna, Kamu syok kayak katak kehilangan kakakkan.

“Basuh rambut sesering mungkin.” Benarkah ampuh atasi ketombe ?

Ganggguan ketombe adalah masalah purba manusia. Diderita umum oleh pria juga wanita. Bagi praktisi hijab, ketombe yang menjangkiti kulit kepala tambah rumit penanganannya.

Ketombe menjejalkan rasa gatal. Pada ketombe kering yang bercampur keringat, rasa gatal menimbulkan gangguan tidak main-main. Keadaan jadi serba salah, digaruk tambah gatal dibiarkan seperti menyilakan rombongan semut beredar. Kepala jadi senewen.

Handayani (2004) mengatakan : ketombe adalah kelainan pengelupasan sel stratum kornceum kulit kepala yang terjadi lebih cepat dari seharusnya. Kotembe membentuk sisik berukuran 2 (dua) milimeter, berwarna keputih-putihan dan menyebabkan rasa gatal. Ketombe terjadi karena penumpukan sel epidermis kulit kepala paling atas dalam jumlah tidak terkontrol.

Lebih dari 50 persen penduduk dunia mengalami problem ketombe. Ketombe disebabkan oleh jamur yang berkembangbiak liar. Ketombe bukan penyakit mematikan. Bak sariawan, rendah bahaya tetapi rasanya tidak nyaman.



Ada dua jenis ketombe kering dan basah. Dua-duanya masalah. Ketombe kering bagai salju meng-awan di musim salah. Ketombe basah, "waduh"...jangan sampai. Baunya memalukan.

Selain memangkas angka percaya diri, ketombe basah memengaruhi kesehatan kulit kepala dan ketahanan akar rambut. Rambut mudah patah, akar rapuh, bau lembab mengurung bau busuk.

Aroma tidak sedap yang dikempet, kena angin kepepet, bisa saja keceplosan menampakkan diri,  Rambut kepala "berkibarlah benderaku". Di tempurung jilbab pun ketombe basah tidak menjamin pemilik rambut bebas bau.

Jadi bagaimana menanganai ketombe ?

Manfaat kangkung untuk ketombe.

Selain segudang manfaat lain, kangkung bisa digunakan sebagai obat tradisional basmi ketombe.

Mengandung senyawa aktif fitokimia seperti flavonoid, alkaloid dan tannin. Atasi jamur P. Ovale yang bersarang di kelenjar kulit kepala (sebum). Sebum sebagai antioksidan membantu menekan pertumbuhan jamur di kulit kepala.

Amprasto (2007:27) mengatakan : “kangkumg(ipomea acuatiqa) adalah sejenis tanaman yang memiliki batang berbentuk bulat panjang, berbuku-buku dan banyak menjalar di permukaan air. Batang merayap merdeka dengan akar rambut yang bersembunyi di bawah permukaan air.
Kangkung makanan serat kaya gizi, mudah didapat dengan harga ekonomis.

Rupiah yang ditumpahkan untuk seikat kangkung bukan apel to apel  harga apel. Satu kilo apel, uangnya bisa angkut kangkung 7 (tujuh) ikat. Jika  7(tujuh) ikat diparoh 14 bagian, lalu rebus saban pagi untuk 14 hari. Saya percaya, penyembuhan ketombe apalagi ketombe basah meningkat signifikan. Serius!

Caranya :

Rebus kangkung separo ikatan dalam air mendidih (tentu setelah dibuang akar dan cuci bersih). Biarkan hingga lunak dalam rebusan air di panci. Matikan api kompor, tunggu dingin. Gunakan masker kangkung menyerang rambut berketombe.

Disiplin jadi kata kunci berubah. Dapatkan kesembuhan, jangan putus tengah jalan. Raih rambut bebas ketombe bersama sang kangkung sampai terbukti.

Insensitas harian penggunaan maskar kangkung tentu berbeda hasil jika dilakukan mingguan apalagi jarang-jarang. Komitmen sembuh dan usaha teratur sepadan mengganjar keseriusan,

Teratur dari sisi waktu, terukur dalam kuantitas kangkung yang digunakan. Penggunaan berlebih berdalih cepat pulih tidak menaikkan nilai penyembuhan, malah terbuang sia-sia, Gunakan kangkung sesuai takaran, pas dan seimbang.

FYI : Rebusan kangkung segar lebih berkhasiat.

Lakukan langkah terus, jangan berhenti kecuali sembuh. Dapatkan rambut sehat bebas ketombe dari bahan terjangkau dan ada sekitar.

Jika bosan untuk rambut, bikin cah kangkung sebagai varian menu harian. Sehat di mulut sembuh di rambut.

Selamat mencoba walaupun puasa.

Bismillah.
GBU.

Sabtu, 11 Mei 2019

Bibir Ayla


sumber gambar : women pepper

"Tabarruj" atau berhias adalah budaya kebodohan (adat jahiliah, maka jangan kamu lakukan). Demikian al-qur’an memberitakan.

Mari mengendorkan ketegangan. 

Karena anjuran menata (nafsu) mata pemuda adalah, “ Tundukkan pandangan atau berpuasalah.” Puasa jadi jurus sakti menegah kekotoran pikiran menjalar merdeka. Ini bulan puasa, saatnya menimba ilmu dan tancap gas mengamalkannya.

Jika hukum berhias adalah haram (jiddah), maka tidak seorang pun warga neraka berjenis kelamin laki-laki. Statistik mengisyukan bangsa perempuan distempel lebih banyak sebagai penghuni.

Menganggap alasan subtsansi tulisan ini dipublish. Saya ingin sedikit lancang menyerukan, “Jangan picik memahami piqh.” Fanatik buta tidak menghasilkan apa-apa, kecuali sakit kepala. Bengkak hati melihat kondisi ummat mengangkangi nilai agama nan fitri.

Sudah jelas berhias atau tabarruj itu haram mengapa dilakukan ?

Mari berpusing ria. Kita diskusikan situasi juga solusi.

“Allah itu indah (jamil) dan menyukai keindahan.”


Ketika kita menghadiri sebuah pesta.

Pasangan pengantin adalah primadona. Semua mata tertuju padanya. Secara penampilan, kostum mereka berdua di atas (rata-rata) tamu yang datang. Riasan kepala, ornamen busana bahkan alas kaki yang dikenakan, semua dihias menawan.

Sekeliling ruangan pesta, dinding bersolek, lampu gantung menjulur, makanan buffet, set prasmanan mewah dan tentu saja pelaminan.

sumber gambar : pinterest

Pelaminan atau tempat duduk pengantin diapit kedua orang tua masing-masing. Pesonanya menyita perhatian mata lebih dari apapun. Di sana tempat utama mengabadikan kenangan. Walaupun tersedia tempat selfie atau swafoto, berfoto bersama kedua mempelai menjadi momen berharga. 

Karena foto adalah jejak kenangan paling nyata, maka seseorang yang pergi kondangan akan mengatur penampilan menghadiri pesta. Busana terbaik yang disesuaikan tempat dan waktu acara. Tas tangan machting high heels. Kebaya dipadupadankan senada. Penampilan sempurna melenggang di lantai pesta. 

Riasan juga gaya rambut (ornamen jilbab) menyesuaikan penampilan keseluruhan. Make up wajah natural lebih diminati. Namun ada juga peserta pesta  setengah mati menutupi pori-pori. Wajah dilukis bagai berlapis. Bermaksud cantik demi mengelabui angka usia, seronok menyelakkan mata orang melihat. 

“Nhaa...” Kaget, dan

“Ooh...” Maklum.

Senyum pemakluman yang disandarkan kepada pelaku riasan. Sudah kelakuan. 

Nah loh.

Berbeda dari  riasan pesta namun bukan berarti kurang berdaya, saya berpendapat beda. Berhias hukumnya wajib. 

Jika hukum islam dikembangkan dalam konteks lebih luas, hukum berhias bisa jadi wajib, sunat, makruh, mubah dan haram. Tergantung niat, kapasitas, dan waktu berhias dilakukan.

Hukum berhias haram dilakukan seorang istri yang keluar rumah dengan tujuan liar dan dosa. 

Sementara hukum berhias sunat selama dilakukan sederhana, penyerta penampilan dan menimbang lebih banyak manfaat. Situasinya. Misal seorang pemateri sebuah diskusi panel. Pemateri perempuan tampil tidak dibuat-buat namun memikat, daya tariknya riasan wajah.